Pengalaman Mendaki Gunung

Pengalaman Mendaki Gunung

\Saya mempuyai pengalaman mendaki gunung dalam acara Pecinta Alam di Pondok Pesantren saya. Acara ini dilaksanakan pada tanggal 6-7 Oktober 2017.

Ini merupakan hal yang tidak biasa tapi buat saya, atau bisa dibilang ini hal baru untuk saya, karena ini pertama kalinya saya mendaki gunung, dan pada saat pertama kalinya ini, saya langsung mendaki gunung tertinggi ke-2 di pulau Jawa, namanya gunungnya adalah gunung Slamet.

Bukan tanpa alasan mengapa gunung ini menempati posisi gunung tertinggi ke-2 setelah gunung Semeru. Gunung ini mempuyai ketinggian 3.428 Mdpl.

Lucu memang, karena saya mendaki untuk pertama kalinya di gunung Slamet, sementara saya sendiri menetap di Kuningan, Jawa Barat yang juga mempunyai gunung yg tinggi bernama Ciremai.

Tapi, sebelum saya cerita proses pendakiannya, saya ingin mengilas balik beberapa hari sebelum pendakian terjadi.

Preparation

Sebagaimana para pendaki-pendaki, pasti sebelum pendakian kita harus mempersiapkan segala kebutuhan yang diperlukan. Mulai dari fisik, psikis, samapai logistik.

Mulai dari H-14 sebelum pendakian, saya dan teman-teman saya yang akan mendaki wajib mempersiapkan fisik dengan cara berlari mengitari pondok, dan mempersiapkan jiwa kita dengan berdzikir pagi & petang, karena digunung adalah tempatnya jin bersemayam.

Kegalauan

Mulai dari H-7, saya dan teman-teman yang hobi futsal mulai galau, karena mulai hari itu, kami tidak diperbolehkan untuk main futsal (Kami biasa main futsal setiap sore). Bukan tanpa alasan, guru kami tidak mau kita mendapat hal yang tidak diinginkan sebelum mendaki gunung, yang takutnya malah akan menghambat atau bahkan tidak mengikuti kegiatan ini.

Belanja

H-3 menuju hari H, kita semua mulai membeli sesuatu yang sangat penting, dan tidak boleh dilupakan, hal itu adalah logistik. Pada hari itu kami semua yang ingin mendaki diberi waktu untuk keluar pondok, dan pergi ke pasar untuk membeli logistik, dan barang-barang yang dibutuhkan lainnya. Saya sendiri tidak ke pasar, saya lebih memilih untuk menitip ke teman yang kepasar, dan saya hanya pergi ke depan membeli nasi padang, Despite that, hal yang gak kalah penting adalah gula merah atau cokelat, karena itu bisa menambahkan stamina kita.

Sedikit saran juga dari saya, kalo pengen daki nanti, gausah bawa terlalu banyak bawaan, yang ada kita sendiri yang kesiksa nantinya.

Packing

Mulai dari H-2, kita sudah mulai packing barang-barang yang akan dibawa, mulai dari barang kelompok, makanan ringan, makanan kelompok, sampai barang pribadi. Suasananya sudah mulai agak berubah, mulai ada rasa-rasa takut, karena ini pertama kalinya saya daki gunung. Kalo gak salah, saya di H-2 ini agak kurang enak badan, jadi saya mulai pesimis bakal ikut.

Pelatihan

Pada saat malam sebelum keberangkatan, ada sebuah pelatihan yang diadakan pembina kami, yaitu pelatihan senam untuk mencegah terjadinya cidera, hipotermia, dan penyakit-penyakit yang tidak kita duga nantinya. Tapi pada malam itu, saya gak ikut, karena saya merasa malas sekali, jadi saya beralasan sakit perut waktu itu (Don’t try this at home).

Berangkat

Tepat pada hari Kamis, 6 Oktober 2017, hari keberangkatan tiba, tapi kita ga berangkat dari pagi, kita berangkatnya siang, dari pagi itu kita masih mempersiapkan barang-barang yang belum kita dapat kemarennya, lalu, masih ada juga panitia yang masih membagi-bagi makanan kelompok yang belum selesai.

Setelah semua selesai, Adzan Dzuhur pun berkumandang, dan kita pun Sholat dengan sudah memakai seragam pecinta alam kami, lengkap dengan syal, dan topi dikepala. Pada saat itu, kami menjama’ Sholat Dzuhur dan Ashar, karena perjalanan memakan waktu kira-kira 4 jam, dan kita berangkat menggunakan truk.

Setelah Sholat Dzuhur, ada Ustadz kami yang memberi wejangan dan tausyiahnya sebelum keberangkatan, beliau berpesan kepada kami, bahwa jangan macam-macam saat pendakian nanti, karena kita tidak tau ada makhluk apa selain kita disana. Dan setelah itu di sambung dengan do’a bersama.

Setelah selesai berdo’a bersama, kita semua mulai berhamburan masuk ke truk untuk mendapatkan posisi yang pewe. Kebanyakan teman saya mengincar posisi di bahu truk, karena bisa sekalian cuci mata(HAHA). Saya sendiri membawa ember dari pondok, untuk berdiri diatas ember agar dapat melihat keluar truk, karena truk yang dipake itu pinggirannya tinggi, kalo kita ga naik ember gabisa liat keluar.

Basecamp

Sesampainya di basecamp awal, kami disambut oleh hawa dingin yang menembus kulit terluar kami, karena di basecamp pertama pun sudah lumayan tinggi, dan suhunya sudah mulai rendah. Kalau ga salah, waktu itu sekitar Maghrib kita sampai, karena kesasar sebelum sampe ke basecamp awal, kita datang agak lama.

Sesampainya disana, kita langsung sholat maghrib, setelah itu, kita disambut hangat oleh orang-orang yang berada disekitaran basecamp.

Lalu, kita mengisi data diri untuk nantinya dibuat sertifikat. Dan setelah mengisi data diri, kami lanjut makan malam, dan yang namanya santri, kalo urusan makanan itu paling-paling, gaboleh ketinggalan, dan pastinya banyak.

Up

Selesai makan-makan dan bercengkrama sebentar, tiba saatnya mulai pendakian. Kita berbaris memanjang 1 banjar sampai kebelakang, dan pak penjaga basecamp mulai memberi wejangan-wejangan singkat seperlunya, hampir sama seperti wejangan yang disampaikan oleh ustadz kami di pondok.

Setelah pak penjaga basecamp selesai memberi wejangannya, pak pembina kami mengambil alih kepemimpinan, dan memimpin kami untuk membaca do’a lagi.

Do’a pun usai, kita mulai beranjak dari tanah yang kita pijak, memulai perjalanan yang lumayan panjang.

Awal perjalan terlihat mudah, dari basecamp sampai ke pos 1, jalannya masih dalam bentuk cor-coran, jadi tidak begitu sulit.

Hutan Karet

Setelah melewati pos 2, yang notabene masih terang, kita disuguhkan dengan hutan karet dan kilauan headlamp yang mulai menyorot kedepan.

Pos tiga, pos empat tidak terasa sudah dilewati. Hingga sampai di pos 5, kami duduk sejenak dan mulai mengemut coklat ataupun gula merah yang telah kami bawa.

Di pos 5 ini, ada kejadian yang tidak mengenakan terjadi. Salah satu pembina kami, mengeluh ia tidak enak badan, dan merencanakan untuk turun kembali. Karena tidak mungkin ia turun sendiri, ada 2 pembina kami menemaninya turun ke basecamp awal lagi.

Ankle

Kami pun melanjutkan perjalanan kembali. Saat kami berjalan menuju pos 6, hal tidak mengenakkan terjadi kepada saya, saat saya sedang jalan, tiba-tiba saya terpleset dan ankle saya keseleo, saya pun terperosok kepinggir jalan setapak. Saat itu sangat dingin, dan jalan pun licin, saya pun tak kuasa menahan rasa sakit. Tapi, karena dukungan teman-teman, saya lanjut berjalan lagi, tapi kali ini saya yang paling depan memimpin perjalanan, karena kalau saya dibelakang saya akan tertinggal pastinya.

Sampailah ke pos 7. Di pos ini kami istirahat sejenak, saya sendiri tertidur pulas, karena sangat lelah.

Tidak selang beberapa lama, kami dibangunkan oleh pembina, dan mulai berjalan kembali.

Setelah beberapa lama jalan, akhirnya kami sampai di pos 8, dimana di pos ini kami sampai subuh, kami ketinggalan sunset, dan di pos ini pula kami menaruh ransel-ransel kami, karena tidak mungkin membawa ransel ke puncak yang jalannya terjal.

Tidak semua dari kami naik ke puncak, ada juga yang sudah putus asa, dan hanya berhenti sampai pos 8.

Merangkak

Kami pun mulai bergegas menuju ke puncak. Ini merupakan fase tersulit menurut saya, karena jalannya begitu terjal, dan jalannya merupakan bebatuan.

Saya tidak bisa mendaki fase terakhir ini dengan berjalan, karena khawatir jatuh karena tidak seimbang. Akhirnya saya pun merangkak.

Saya kira dengan merangkak akan mudah, ternyata tidak. Yang ada tangan dan kaki saya pegal, saya agak stuck ditengah perjalanan, dan memilih untuk tidur selama 1 jam. Banyak teman saya yg sudah melewati saya, padahal dari tempat saya ke puncak itu sudah terlihat, tapi karena terlalu terjal jadi susah menggapainya.

Teman-teman saya pun mulai meneriaki saya untuk tetap naik, saya pun tidak hilang semangat, karena saya ingin membuktikkan saya pun bisa sampai atas dalam percobaan mendaki untuk pertama kalinya ini.

Puncak

Setelah struggle untuk sampai keatas, akhirnya saya sampai diatas, dan saya sangat kagum dengan ciptaan Allah yang jarang orang lihat ini.

Berkat support teman-teman saya lah saya bisa sampai keatas.

Wassalam

This Post Has 2 Comments

  1. Mantul bang..

Leave a Reply

Close Menu