Pengalaman DIKLATSAR Pecinta Alam

Pengalaman DIKLATSAR Pecinta Alam

Ini merupakan salah satu dari banyaknya pengalaman saya dalam hal Pecinta Alam. Yang mana hal ini pasti ada disetiap orang-orang yang mengikuti kegiatan kepecinta alaman, entah itu MAPALA, TRIPALA, ataupun PALA-PALA yang lain.

Ya, hal ini adalah DIKLATSAR (Pendidikan dan pelatihan dasar). Biasanya, bahkan mungkin semua yang melakukan kegiatan ini pasti melakukannya dialam bebas, atau dihutan.

Kalau saya sendiri, tergabung dalam TRIPALA(Santri Peecinta Alam). Yang mana pada saat saya melaksanakan kegiatan ini, pangkat saya masih sebagai siswa.

Perlu diketahui, didalam organisasi saya, ada 3 tingkatan anggotanya. Mungkin juga didalam organisasi pecinta alam yang lain begitu.

Yang pertama adalah yang paling rendah, yang mana di fase inilah kegiatan DIKLATSAR terlaksana, pangkatnya adalah SISWA. Dan di fase inilah, dimana fase paling mencekam, difase ini kita lebih sering di basic daripada belajar ilmu tentang alam. Tapi Alhamdulillah saya bisa melalui hal ini.

Yang kedua adalah ANGGOTA, difase ini terbilang cukup santai, karena kita hanya lebih banyak nguli dan materi dibanding basic. Dan saya pun berhasil juga melewati fase ini

Yang ketiga adalah PENGURUS, difase ini kita sudah tidak mengikuti kegiatan seperti halnya 2 fase dibawahnya, tetapi kita yang mengurus 2 fase dibawahnya, sama halnya seperti OSIS, tetapi ini mengurus organisasi diluar sekolah.

Dan biasanya acara ini dilaksanakan setelah ujian semester gasal, dan biasanya ujian gasal itu selesai bulan Desember. Tapi gak tau kedepannya gimana, karena pasti akan berubah seiring berubahnya waktu Ramadhan.

DIKLATSAR

Langsung ke pokok pembahasan. Ini adalah hal yang ditunggu-tunggu oleh para pengurus, dan ditakuti oleh para siswa yang akan mengikuti acara ini.

Bagaimana tidak? Selalu saja setiap para kakak kelas kami dipondok bercerita tentang DIKLATSAR (kalau kita dipondok menyebutnya PHG(Praktek Hutan Gunung)) pasti mereka akan bercerita tentang kengeriannya saja. Jarang dari mereka yang bercerita tentang enaknya PHG. Mereka bercerita enaknya tapi dari sudut pandang pengurus.

Ya, mungkin hal itu hanya untuk menakut-nakuti saja, atau mungkin hal itu untuk membuat kita mempersiapkan diri.

Desember

Tak terasa sudah memasuki bulan Desember. Praktis ini sudah memasuki bulan paling berat dan paling ditunggu menurut saya.

Beratnya karena banyak serangkaian ujian semester, dan kita tidak boleh keluar atau bermain bola selama masa ujian ini, dan juga ada acara PHG.

Senangnya karena dalam masa ujian tidak ada peluit yang memanggil, karena harus fokus ujian, dan juga di bulan ini akan ada liburan menanti.

Seperti halnya peribahasa “Berakit-rakit ke hulu, berenang-renang kemudian. Bersakit-sakit dahulu bersenang-senang kemudian”.

Jangan Senang Dulu

Selesai sudah ujian semester gasal kami jalani, tapi jangan senang dulu. Masih ada obstacle dalam hidup yang sedang menanti.

Mulai disini sudah mulai terdengar lagi pluit yang harus kita datangi. Setelah mungkin 1 bulan vakum tidak mendengar suara yang sangat membuat dongkol hati ini. Suara yang bisa membuat pondok bergetar karena hentakan kaki yang belari terburu-buru.

Pertama kali kita dikumpulkan, kita disuruh mencatat barang apa saja yang harus kita bawa nantinya.

Mulai dari drijen ataupun botol untuk menampung air nantinya, lalu kompor lapangan (kompor yang terbuat dari kaleng minuman bekas), kapas (untuk dimasukkan kedalam kompor lapangan nantinya), spirtus(untuk menyalakan kompor lapangan), minyak pramuka (minyak yang dimasukkan bawang merah), dan masih banyak lagi.

Berbeda dengan mendaki gunung, kita tidak diperkenankan membawa snack atau makanan ringan, jadi yang kita makan pure dari makanan yang dibagikan ke kelompok masing-masing. Tapi tetap saja, pasti ada yang menyelunlndupkan satu-dua makanan ringan lah.

Kompor Lapangan

Oiya, saya mau flashback jauh hari sebelum masuk bulan Desember.

Jadi, sebelum bulan Desember, kami dikumpulkan untuk dibagi kelompok untuk PHG nanti. Setelah kelompok sudah dibagi, saya pun berkumpul dengan kelompok saya untuk rapat menentukan urunan kelompok untuk membeli perlengkapan yang dibutuhkan dan menentukan siapa ketuanya.

Setelah urunan, kita pun ada keluar sebelum ujian dilaksanakan. Tidak semuanya, hanya perwakilan kelompok saja untuk membeli perlengkapan yang harus dibeli.

Dan hal yang harus dibeli dan tidak boleh terlupakan adalah membeli kaleng bekas minuman untuk nantinya dijadikan kompor lapangan. Mungkin dari kalian banyak yang belum tau bagaimana sih bentuk kompor lapangan itu? Ini saya kasih gambarnya dibawah.

Plastik Ikan

Nah, kita kembali ke alur cerita. Beberapa hari sebelum keberangkatan, kita dipluit lagi untuk dibagikan peta hutan yang akan kita telusuri, dan juga makanan kelompok

Dan juga kita sudah mulai packing barang-barang yang ingin dibawa. Ada yang unik dengan cara packing kami, yakni kita wajib memakai plastik ikan didalam tas keril kita masing-masing, karena nanti kita akan melewati banyak air, dan isi tas kita tentunya gaboleh basah. Ya mungkin juga semua pecinta alam cara packingnya begitu.

Berdiri

Singkat cerita, hari sudah memasuki hari H. Kita dipluit sebelum berangkat, dan berkumpul untuk mendengarkan nasihat-nasihat dari guru kami dipondok sebelum kami berangkat ke tempat antah berantah.

Setelah beberapa lama, selesai lah nasihat guru kami, dan kami dipluit lagi untuk disuruh menaiki truk yang sudah ada. Ya, kami naik truk, dan ini transportasi ini adalah transportasi wajib bagi para Pecinta Alam dipondok saya (mungkin diluar juga) karena harganya yang lebih murah dibanding bis.

Dan kami pun menaiki truk dengan berdesak-desakan. Lalu kami membaca do’a safar diatas truk, dan truk pun mulai berjalan.

Di awal-awal perjalanan kami sangat semangat sekali, kita terus menyanyikan yel-yel yang ada.

Tapi lama kelamaan kita mulai cape, lesuh, dan sepanjang perjalanan pun kami tidak diperkenankan duduk alias berdiri. Kami duduk, tapi hanya sebentar sekali.

Suara Alam

Setelah sekian lama diperjalanan yang melelahkan, kurang lebih 4 jam lamanya kami di truk berdiri, sampailah kami ditempat disambut dengan gelap, dingin dan suara alam yang mencekam. Mulai disini perasaan sudah berubah menjadi takut dan gelisah.

Tapi kami belum sepenuhnya sampai ditempat. Kami harus berjalan lagi dari tempat truk berhenti sampai ketempat pertama yang akan menjadi titik kumpul pertama nantinya karena tidak memungkinkan untuk truk masuh kesitu.

Accident

Sampai sudah kita ditempat pertama, dan ada saja accident yang terjadi. Dan accident ini terjadi pada kelompok saya. Mulai dari teman saya yang tali tasnya putus tiba-tiba, dan spirtus di tas teman kelompok saya yang lainnya tumpah.

Setelah selesai merapihkan accident yang ada, kami lanjut berjalan ke camp pertama yang akan kita dirikan tenda disana nantinya. Dan diadakan pemilihan DANSIS (Komandan Siswa) disana.

Setelah tempat rata, kami pun mendirikan tenda menggunakan ponco yang dirangkai dengan peniti untuk menjadi atap saat kami tidur

Sungai

Lewat sudah malam pertama di hutan yang sangat dingin itu, dan kami pun mulai packing kembali barang-barang kami dan lanjut berjalan ke destinasi selanjutnya.

Nah, di destinasi selanjutnya ini, camp saya dan teman-teman ngecamp tempat disamping sungai dan sungainya sangat bersih dan dingin airnya. Karena saya suka maen air saya tanpa ba-bi-bu langsung main disungai itu tanpa berpikir kedepan.

Dan ternyata, saat malemnya saya sengsara karenga kedinginan.

Kebakar

dan hari-hari yang berat sudah berlalu dan kini saatnya hari terkahir. Dan ada insiden lagi saat hari terakhir ini. Tenda kelompok saya kebakar karena teman saya memainkan spirtus didekat tenda.

Pulang

Selesai sudah serangkaian acara yang sudah dilaksanakan selama 6 hari dihutan, kini saatnya kita pulang, dan harus berjalan dari tempat perkumpulan pertama ke tempat parkir truk lagi.

Banyak dari kami yang susah berjalan lagi, termasuk saya. Karena telapak kaki kami sudah lecet parah dan kulitnya menempel di kaus kaki.

Begitulah cerita singkat pengalaman saya, semoga bisa menghibur anda semua.

Wassalam.

Leave a Reply

Close Menu