Baju Adat Aceh

Baju Adat Aceh

Aceh merupakan provinsi yang berada dipaling ujung barat Indonesia. Memiliki beragam suku, budaya, makanan khas, dan juga baju adat, membuat provinsi ini sangat menarik untuk dibahas.

Tapi yang paling menarik untuk dibahas adalah baju adat yang dimiliki oleh provinsi Aceh ini. Provinsi yang satu ini mempunyai pakaian khas dan unik yang biasanya digunakan dalam momen tertenu, seperti untuk upacara adat, penikahan, atau acara adat yang lainnya.

Jika kita membahas baju adat Aceh, kita mesti tau sejarahnya bahwa dahulu pada zaman kolonial Belanda, baju adat Gayo dibuat dengan bahan dasar kayu nanit yang dipadukan dengan bahan-bahan lainnya, contohnya adalah kapas.

Baca Juga: Baju Adat Papua

Tapi, setelah berkembangnya zaman, baju adat Aceh sudah berkembang sesuai zamannya. Yang dahulu dibuat dengan menggunakan bahan dasar kayu, sekarang sudah dibuat dengan bahan dasar yang unik.

Baju Adat Aceh Modern

Zaman sekarang, masyrakat Aceh sudah tidak menggunakan bahan-bahan yang sudah out of date alias jadul untuk bahan dasar dari pakaian adatnya. Pakaian adat Aceh modern dibagi menjadi dua yakni Linto Baro untuk pria dan Daro Baro untuk wanita.

Linto Baro

Baju adat Aceh pria yakni Linto Baro
Source: Google

Linto Baro merupakan satu set baju yang terdiri dari beberapa perlengkapan, seperti baju, celana, perhiasan, dan beberapa perlengkapan lainnya yang dikenakan oleh kaum pria. Diantaranya adalah:

Baju Meusakah

Baju Meusakah merupakan baju yang dipakai untuk melengkapi Linto Baro
Source: Google

Untuk bagian yang paling mencolok yakni baju, Linto Baro menggunakan baju bernama baju Meusakah yang terbuat dari kain tenunan dari jenis sutra dengan warna dasar berwarna hitam.

Warna hitam sendiri mempunyai filosofinya sendiri dikalangan masyarakat Aceh. Menurut kepercayaan masyrakat Aceh warna hitam memiliki arti kebesaran.

Dan juga keunikan dari baju ini yang jarang diketahui orang adalah rangkaian benang emas yang menghiasi kerah dari baju ini yang menyerupai baju khas Tionghoa.

Hal tersebut karena, jika kita menelik sejarah, suku Aceh adalah percampuran dari budaya Aceh otentik dan juga budaya Cina yang dibawa oleh para pelaut dan pedagang pendatang dari Cina.

Celana Sileuweu

Celana Sileuweu baju adat Aceh
Source: Google

Untuk bagian celana, bahan yang dibuat tidak jauh beda dengan bajunya. Bahan dasar dari celana Sileuweu juga dibuat dengan kain sutra hitam yang ditenun.

Kadang, celana ini disebut sebagai “Celana Cekak Musang” oleh adat Melayu. Cekak sendiri memiliki arti kecil, dalam pembuatan dan pemakaiannya cekak diatas mata kaki.

Dan juga celana Sileuweu dilengkapi dengan aksesoris yakni sarung yang terbuat dari kain songket dengan bahan dasar sutra. Maksud dari tambahan aksesoris sarung ini, menurut masyarakat Aceh adalah untuk menambah wibawa sang pemakainya.

Meukeotop

Meukeotop merupakan pelengkap dari baju adat Aceh untuk penutup kepala
Source: Google

Meski memiliki unsur Tionghoa pada hiasan bajunya, Linto Baro tetap mempunyai unsur Islam didalam pakaian adatnya. Hal tersebut memag karena provinsi Aceh sering disebut sebgaia serambi Mekah karena mayoritas masyarakatnya beragama Islam.

Meukeotop merupakan pelengkap dari Linto Baro yang merupakan peci atau kopiah, tetapi dengan bentuk khas adat Aceh. Untuk bentuknya, meukotop mempunyai hiasan khas berbentuk lonjong keatas.

Selain itu, peci Meukotop juga dilengkapi dengan lilitan berbentuk bintang segi delapan yang terbuat dari tenunan kain sutra yang berbahan dasar terbuat dari emas.

Rencong

Rencong sebagai aksesoris pelengkap baju adat Aceh Linto Baro
Source: Google

Untuk aksesoris yang selanjutnya adalah Rencong. Aksesoris untuk melengkapi baju, celana serta penutup kepala ini berbentuk senjata. Tapi senjata ini hanya untuk hiasan saja, tidak digunakan untuk perang.

Rencong juga merupakan senjata tradisional dari Aceh. Dan senjata ini ditujukan sebagai simbol untuk identitas diri yang memiliki arti ketangguhan serta keberanian menurut masyarakat Aceh.

Daro Baro

Daro Baro baju adat Aceh untuk wanita
Source: Google

Selanjutnya adalah baju adat Aceh yang dipakai oleh perempuan. Tentunya antara baju adat pria dan wanita sangat berbeda, mulai dari aksesoris hingga warna dan rupanya. Dan Daro Baro lebih islami dibandingkan dengan Linto Baro. Mari kita lihat.

Baju Kurung

Dinamakan denga baju kurung karena pakaian adat Aceh untuk wanita yang satu ini berbentuk layaknya kurung, serta memiliki lengan panjang. Memiliki kerah, serta motif sulam benang berwarna emas, membuat baju ini hampir sama dengan baju adat Linto Baro.

Untuk bentuknya, baju kurung berbentuk melebar dan memanjang kebawah hingga ke pinggul. Tujuannya ialah agar bajunya bisa menutup semua lekukan aurat tubuh bagi wanita yang memakainya.

Dan perlu diketahui juga bahwa ornamen-ornamen yang terdapat dibaju ini meruapakan hasil gabungan dari budaya Arab, Tionghoa, dan Melayu yang menghiasi bentuk dan motifnya.

Celana Cekak Musang

Untuk celana, yang dikenakan oleh perempuan Aceh sama dengan yang dikenakan oleh kaum pria yakni celana cekak musang atau celana sileuweu. Perbedaannya hanya pada penghias lilitan sarung yang memanjang sepanjang lutut.

Penutup Kepala dan Perhiasan

Phatam Dhoi untuk penutup kepala Daro Baro
Source: Google

Sama hal-nya dengan pakaian pria, Daro Baro juga dilengkapi dengan penutup kepala. Dikarenakan Aceh sangat memegang teguh syariat Islam, jadi tak hanya desain bajunya yang dibuat sedemikian rupa agar menutup aurat, penutup kepalanya juga.

Bagian penutup kepala sendiri ditutup menggunakan jilbab dengan ditambah hiasan mahkota yang terbuat dari bunga-bunga alami. Penutup kepala ini biasa disebut denga Patham Dhoi.

Untuk tambahan keunikan dari penutup kepalanya ditambahkan lah dengan berbagai perhiasan yang lainnya, contohnya adalah Tusuk Sanggul. Dan juga untuk melengkapi kecantikannya, Daro Baro ditambah dengan aksesoris gelang, kalung, anting, dan juga aksesoris yang lain yang dipasang dikepala, dada, tangan, dan bagian tubuh yang lainnya.

Leave a Reply

Close Menu